Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan di cyber space (internet), dan tidak sengaja saya menemukan artikel dalam blog yang ditulis oleh Dewi Lestari, seorang penulis yang populer dengan Novel Supernova. (psst…btw, saya belum baca novelnya hehe). Dalam artikel yang berjudul Ketuhanan Yang Ma[s]a Esa[?], Dee (nama akrab Dewi Lestari) membahas mengenai konsep tuhan yang sering kali menimbulkan suatu permasalahan tersendiri, baik dari putus hubungan sepasang kekasih sampai isu politik.
Dee juga mempertanyakan mengenai konsep Tuhan Yang Esa bahkan membuka peluang akan ketidakberadaan Tuhan dengan mengatakan: “…Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?”
Saya melihat banyak komentar beragam yang menanggapi tulisan Dee tersebut, dari mereka yang sependapat dengan Dee sampai mereka yang menggunakan jurus-jurus penggunaan ayat-ayat agama yang menurut saya cenderung memaksakan kehendak dan tidak nyambung dengan tulisan Dee yang sebenarnya mempertanyakan konsep ketuhanan.
Salah satu komen yang cukup menarik adalah dari nick bernama Yahshua mengenai ‘lost in translation‘ dari kata ‘tuhan’. Namun kali ini saya tidak membahas mengenai hal ini, tetapi mengenai tanggapan Dee tentang kelelahannya dengan segala konsep tuhan.
Saya agak sedikit tergelitik dengan jawaban Dee: “Saya sendiri sudah lelah dengan segala konsep tentang Tuhan. Mau itu sederhana atau kompleks. Selama itu cuma konsep… kita tidak pernah membicarakan Tuhan. Karena menurut saya Tuhan hanya bisa dialami. Bukan dikonsepkan.”
Menurut saya, ketika Dee mengatakan, “…Tuhan hanya bisa dialami…”, ini pun Dee sedang berkonsep, membuat konsep mengenai tuhan yang isi konsepnya adalah tuhan hanya bisa dialami. Selama kita masih membicarakan tuhan ini dan itu, tuhan begini dan begitu, tuhan hanya ini dan hanya itu, maka kita masih berkonsep ria mengenai tuhan. Saat kita mengatakan: “tuhan itu tidak berkonsep“, kita tetap masih mengonsepkan tuhan yaitu mengonsepkan tuhan yang tidak berkonsep. Bahkan ketika kita telah mengalami sesuatu yang “hebat” dalam pengalaman spiritual kita melalui kontemplasi, doa, meditasi atau apapun namanya, dan kita mulai menilai pengalaman itu, “Oh! ini tuhan itu“, maka kita pun mulai berkonsep.
Lalu kapankah kita tidak lagi mengonsepkan tuhan? Jawabannya adalah saat kita tidak membicarakan tuhan lagi, saat kita tidak menghubung-hubungkan kehidupan kita dan segala fenomena dengan tuhan lagi, saat itulah kita tidak mengonsepkan tuhan lagi, saat itulah kita berhenti berkonsep ria akan tuhan.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan. Dapatkah kita melakukannya? Yes we can! (kata Obama, duh!). Namun hal ini tidaklah mudah bagi sebagian besar orang, khususnya bagi mereka yang sudah terjebak, terdogma dan melekat pada suatu konsep tuhan tertentu. Dan alasan mengapa mereka mempertahankan konsep dogma yang mereka anut adalah rasa takut.
Rasa takut ini bisa muncul dari beberapa pemicu baik dipicu dari dogma yang isinya mengancam bagi yang meninggalkan dogma itu akan mendapat hukuman berat (very ridiculously huh
), sampai pada rasa takut yang muncul dari rasa ketidakpercayaan diri sebagai manusia di tengah ketidakpastian kehidupan dan miskinnya pengetahuan dan pemahaman akan proses bekerjanya fenomena alam.
Jadi, sekali lagi, hanya saat kita tidak menghubung-hubungkan kehidupan kita dan segala fenomena dengan tuhan lagi, saat itulah kita tidak mengonsepkan tuhan lagi, saat itulah kita berhenti berkonsep ria akan tuhan.
6 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI

Hohoh konsep-konsepan.
Kalo ada yg mau begini gimana:
In the begining was the Word
And the Word was with God
And the Word was God
Salam Kenal
Halo,
Menurut saya, ini pun masih dalam tataran konsep, yaitu konsep “Word was God”.
Thanks
Berarti Tuhan itu tak terkonsepkan.
Bila Tuhan tunduk kepada konsep,
Maka Tuhan menjadi barang ilmiah, kan?
Salam Damai!
Maaf, baru bisa menanggapi.
Jika kita mengatakan : “Berarti Tuhan itu tak terkonsepkan.” Ini pun kita sedang dalam tataran untuk berkonsep, yaitu berkonsep bahwa tuhan itu tidak terkonsepkan. Oleh karena itu dalam artikel di atas saya sampaikan bahwa : saat kita tidak membicarakan tuhan lagi, saat kita tidak menghubung-hubungkan kehidupan kita dan segala fenomena dengan tuhan lagi, saat itulah kita tidak mengonsepkan tuhan lagi, saat itulah kita berhenti berkonsep ria akan tuhan.
Semoga dapat dipahami ya
Thanks
Wah!
Apakah karna takut kepada konsep,
Maka tak perlu membicarakan Tuhan?
Ada banyak sejarah bangsa yg tak membicarakan Tuhan.
Mis.: Sovyet yg hanya mengkonsepkan keadilan yg ilmiah.
Nazi yg hanya mengkonsepkan keunggulan ras mereka saja.
Semua gagal.
Gimana tuh, Bro!
Salam Damai!
Maaf sudah lama sekali saya tidak melihat dan menjawab posting.
Bukan karena takut akan konsep, tapi karena realitasnya yang demikian yang hanya akan membuat kita berkonsep ria dalam ketidakjelasan selama kita tidak bisa memandang segala sesuatu apa adanya. Sama seperti melihat isi dan dasar dari kolam yang airnya terus bergelombang, kita tidak bisa dengan jelas melihatnya, hanya bisa memperkirakan. Hanya dalam tenangnya air, maka kita dapat melihat isi dan dasar kolam dengan jelas. Demikian.